Manajemen kinerja adalah suatu proses
yang menggunakan berbagai alat untuk memastikan tujuan program dapat dicapai
dengan cara yang paling efisien dan efektif.
Alat manajemen kinerja antara lain:
- Logic Model : menyediakan kerangka yang akan membantu staff memahami dan mengkomunikasikan dengan jelas bagaimana aktivitas program, output dan hasil terkait dengan tujuan jangka panjang.
- Performance measurement: pengawasan dan pelaporan berkelanjutan dari kemajuan dan penyelesaian program menggunakan ukuran kinerja yang telah dipilih.
- Program Evaluation: studi sistematis yang meggunakan analisis dan pengukuran untuk menjawab pertanyaan khusus terkait seberapa baik suatu program berjalan untuk mendapatkan hasilnya dan mengapa.
Logic Model membantu dalam
a.
Membuat
eksplisit mengenai hal yang Anda ketahui secara implisit tentang program Anda
b.
Mengklarifikasi
bagaimana program bekerja
c.
Memahami
atau menyederhanakan “keajaiban” yang terjadi
Logic model adalah grafik atau gambar
yang menyatakan hubungan sebab akibat antara aktivitas program dan
hasil/konsekuensi yang dimaksud.
Terdapat tiga bagian medasar dari
Logic Model:
Program Structure, Outcome Structure dan Context
Jika kita menggambar garis vertical
imajiner ditengah diagram, maka sisi kiri terdapat Sumber daya, Aktivitas dan
Output yang menjelaskan apa itu Program Structure. Garis putus-putus yang
melintasi Pelanggan menggambarkan “Bagaimana program mencapai tujuan yang
diinginkan”. Elemen yang berada di sisi kanan garis imajiner menunjukkan
Outcome Structure diwakili dengan hasil jangka pendek, hasil jangka menengah
dan hasil jangka panjang. Garis putus-putus yang melintasi Hasil Jangka
Mengengah menjelaskan “Mengapa program ada dalam usaha”
Perlu diperhatikan pula bahwa garis
kedua yang melewati Hasil Jangka Menengah mengindikasikan lingkup pengaruh program, yaitu hasil yang dikendali langsung oleh
program.
Terakhir yaitu context. Kondisi
eksternal yang mendeskripsikan faktor-faktor diluar kendali Anda, bisa negative
maupun positif, yang pasti mempengaruhi hasil dan dampak dari program yang
dilakukan. Logic model haruslah fleksibel karena terjadi perubahan-perubahan
keadaan dari waktu ke waktu.
Logic Model terdiri dari tujuh (7)
elemen, antara lain:
- Sumber Daya meliputi investasi programmatic yang tersedia untuk mendukung program, contoh anggaran operasional, pengetahuan, dsb. Dengan kata lain sumber adya adalah segala sesuatu yang dimiliki.
- Aktivitas meliputi hal-hal yang Anda lakukan. Aktivitas yang telah direncanakan dalam melaksanakan program. Contoh: penyaluran bantuan teknis, mengembangkan atau merancang workshop, website, lembar fakta atau brosur, dsb. Anda juga dapat mengembangkan atau merancang database.
- Output yaitu produk/implementasi target yang dihasilkan dari program yang dilakukan. Misalnya bantuan teknis, workshop, website, lembar fakta dan brosur.
- Pelanggan: pengguna produk atau orang-orang yang kita coba pengaruhi atau kita capai.
- Hasil : Jangka Pendek : perubahan dalam pembelajaran, pengetahuan, tingkah laku, kemapuan dan pemahaman; Jangka Menengah : perubahan dalam sikap, praktek atau keputusan; Jangka Panjang : perubahan kondisi.
- Pengaruh Eksternal : faktor diluar kendali Anda (positif atau negative) yang dapat mempengaruhi hasil atau dampak program atau proyek.
Perbedaan
Output dengan Outcomes
Output
: produk dan jasa yang tersedia sebagai hasil langsung aktivitas program atau yang
diusulkan.
Outcomes
: Perubahan-perubahan atau keuntungan yang dihasilkan dari aktivitas dan
output. Penyelesaian tujuan program.
Kegunaan
Logic Model
1. Planning Tool. Logic model dapat
membantu staff memahami bagaimana program yang ada dirancang untuk bekerja dan
bagaimana program baru bisa dirancang.
2. Communication Tool. Logic model dapat
mengkomunikasikan prioritas program/project.
3. Implementation Tool. Logic Model dapat
digunakan sebagai panduan untuk mendokumentasikan bagaimana program
diimplementasikan.
4. Measurement Design. Logic model dapat
membantu mengidentifikasi dan mengembangkan pengukuran kinerja untuk
program/proyek mereka. Logic model membantu merencanakan elemen program dalam
bentuk sumber daya, aktivitas, output, pelanggan, dan outcomes yang nantinya
akan dienyatakan sebagai ukuran kinerja.
5. Evaluation Design. Logic model dapat
digunakan untuk mengindentifikasi dan menfokuskan aspek tertentu dari kinerja
program. Pertanyaan evaluasi dapat dipertimbangkan berdasarkan sumber daya,
aktivitas, output, pelanggan, dan outcomes.
Keuntungan
Menggunakan Logic Model
1. Menggambarkan logika atau teori
program atau proyek. Logic model dapat menggambarkan bagaimana dan mengapa
program akan berjalan.
2. Memusatkan perhatian pada hubungan
paling penting antara aksi dan hasil. Logic model memberikan penekanan pada
hubungan paling penting antara aksi (hal yang kita lakukan) dengan outcomes
(hasil yang dapat dika lihat).
3. Membangun pemahaman bersama antara
staff dan stakeholder. Logic model penting dalam pembagian pemahaman antar stakeholder mengenai bagaimana rancangan
program dilaksanakan dan bagaimana elemen dalam program bekerja bersama-sama
untuk mencapai tujuannya.
4. Membantu staff dalam “mengelola hasil”
dan menginformasikan rancangan program. Logic model menciptakan efektivitas
dalam mengelola hasil karena pengukuran kinerja yang efektif dapat dengan mudah
dihubungkan dengan bagian “kunci” program. Terkait hal tersebut, manajer dapat
melacak penggunaan sumberdaya secara efektif dan efisien.
5. Menemukan “gap” dalam logika suatu
program dan berusaha menyelesaikannya. Jika terjadi gap antara logic model
program dengan aktualisasinya, maka manajer/staff dapat mencari solusi untuk
mencapai kesesuai diantara keduanya.
Keterbatasan
Logic Model
1. Logic model “mewakili” realitas, namun
bukan realitas. Logic Model adalah gambaran dari realitas mengenai bagaimana
seharusnya program berjalan, akan tetapi Logic model bukanlah kenyataan.
2. Sifat linearnya gagal
menggambarkan/menangkap kompleksitas beberapa program. Pada kenyataannya,
program yang dijalankan tidak lah dalam keadaan “vacuum”. Artinya, ada
faktor-faktor lain yang saling berinteraksi. Faktor-faktor ini biasanya tidak
tergambar dalam linearitas dimensi Logic Model.
3. Terlalu menyederhanakan program.
Sebagai akibat dari sifat linear Logic Model yang gagal menggambarkan/menangkap
kompleksitas, program digambarkan terlalu sederhana dengan hanya fokus pada
interaksi yang paling tinggi.
4. Tidak membuktikan program adalah
penyebab terjadinya outcome (hasil).
Meskipun Logic Model sangat berguna dalam menggambarkan hubungan sebab akibat
antara usaha program dan hasil yang diamati, Logic Model sendiri tidak bisa
membuktikan atau mendemontrasikan bahwa outcomes
(hasil) disebabkan langsung oleh program.
5. Gagal mengidentifikasikan outcome diluar dari outcomes yg dikehendaki. Logic Model hanya mengidentifikasi
outcomes yang hendak dicapai oleh staff, sedangkan outcomes yang timbul diluar
yang dikehendaki—baik positif maupun negative—tidak dapat diidentifikasi.
Pihak-pihak
yang menggunakan Logic Model
1. Sektor Privat
Pada sektor privat, Total Quality
Management dan pengukuran gerakan kinerja memicu adanya penggunaan Logic Model.
2. Sektor Publik
Pengenalan dari government performance
and Result Act tahun1993 mengarahkan penekanan hasil dan hubungan investasi
dengan output dan outcome pada pemerintahan.
3. Organisasi Nirlaba
United Way menjadi pelopor penggunaan
Logic Model dalam pengukuran dan pengidentifikasian outcome.
4. Organisasi Internasional
Secara internasional, log frame
menjadi alat pilihan untuk menghubungkan aktivitas dengan outcome.
5. Pengevaluasi
Banyak evaluator kesulitan dalam mengevaluasi atau
mengembangkan pengukuran untuk program yang merak belum pahami. Logic model
sangat membantu mereka dalam memahami teori yang medasari bagaimana program
berjalan sebelum mulai melakukan evaluasi.
Contoh kasus
Program penghematan uang saku
mahasiswa perantau
- Latar Belakang
Keinginan menempuh pendidikan terbaik
membuat mahasiswa rela meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan
di Universitas ternama. Sebagai perantauan, mahasiswa dihadapkan pada
penjatahan uang saku dari orang tua masing-masing. Tidak jarang, uang saku
mereka sudah habis sebelum kiriman uang saku berikutnya ada.
Saya termasuk mahasiswa yang tidak
jarang mendapatkan kondisi dimana pengeluaran lebih besar dari dana yang
seharusnya saya miliki. Jauhnya jarak orang tua, mengakibatkan lemahnya
pengawasan terhadap arus kas yang saya miliki. Oleh karena itu saya merancang
program untuk menekan pengeluaran berlebih selama saya menempuh pendidikan di
Universitas. Hal ini saya lakukan agar saya memiliki dana yang cukup untuk
kebutuhan penting lain sewaktu-waktu dan meningkatkan kesadaran sebagai anak
yang berbakti.
- Resouces
- Uang saku bulanan
- Kemampuan melakukan pembukuan
- Peralatan mencatat
- Activity
- Merancang anggaran pendapatan dan belanja mingguan
- Melakukan pengeluaran rutin sesuai dengan anggaran yang telah dibuat
- Melakukan pencatatan pengeluaran harian
- Melakukan kroscek di akhir minggu dan bulan
- Output
Catatan arus belanja bulanan
- Hasil Jangka Pendek
Mengurangi pengeluaran tidak penting
- Hasil Jangka Menengah
- Hasil Jangka Panjang
Pemanfaatan uang saku yang optimal
guna menunjang hidup dan pembelajaran selama menempuh pendidikan di
Universitas.
Referensi
