Minggu, 02 Agustus 2015

Kaki itu adalah Surga (Motivasi Kita)

Kini, aku ingin berbagi sediki, karena sebagai manusia kita harus berbagi kebaikan, kita saling mengingatkan. Ini pengalaman pribadi. Bentuk kesadaran dan aku ingin berbagi teruntuk kita sebagai anak. 

Aku adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri. Bersanding dengan rekan sejawat yang sungguh luar biasa membuatku tak bisa bersantai-santai. Sejak dulu, orang tuaku selalu bercerita mengenai kisah mereka. Kisah mereka sungguh membuatku malu akan perjuangan ku yang masih jauh dari sepadan dengan yang mereka hadapi dulu. Itulah yang membuatku tidak takut merantau, jarang pulang, dan menyibukkan diri. 

Suatu ketika, aku memutuskan untuk pulang setelah beberapa waktu aku tak kembali ke kampung halaman. Ibu menelponku untuk pulang, rindu katanya. Biasa saja di rumah, hanya membantu Bapak membenahi rumah di sana sini. Meskipun perempuan, aku sangat senang membantu Bapak melakukan hal-hal sedikit berbau kelaki-lakian seperti membenahi atap yang bocor, mengecat rumah, sampai mengutak-atik peralatan elektronik rumah tangga. Menurutku pekerjaan itu menantang. 

Lanjut cerita, hari berganti malam. Ibuku tampak letih. Memang Ibuku seorang yang tidak bisa berpangku tangan. Lalu aku pijat kakinya. Serta merta, aku menghela napas panjang. Dadaku sedikit sesak. Ketika kupijat kaki Ibuku, sangat terasa bahwa ototnya tak lagi kencang. Disana mataku terbuka sangat lebar. Ibuku menua, begitu pula Bapakku. Aku diperantauan "sibuk" mengurus urusan mahasiswa. 

Benar kata orang, bahwa surga di telapak kaki Ibu. Ketika kita melihat betapa sulitnya mereka (orang tua) memenuhi kebutuhan keluarga. Itulah salah satu yang membuat kita sadar, bahwa mereka adalah "agen" Tuhan untuk memberikan kita hidup. Itu yang membuat kita bersyukur tanpa patah semangat.

Jadi teman, aku juga memahami sebagai mahasiswa banyak yang ingin kita capai di perkuliahan. Teman, organisasi, komunitas, kelas, tugas kuliah, semuanya itu penting untuk kita. Tapi, jika kita diberi kesempatan pulang, pulang lah. Tengok mereka, dan cium mereka. Di rumah, mereka hanya ingin tau kalau kalian makan enak dan tidur nyenyak walau mereka sendiri susah. "setorkan" kehadiran kalian untuk mengurangi kekhawatiran mereka. Aku yakin, mereka rindu. Tapi mereka segan untuk mengganggu sehingga lewat telepon, sms, atau apapun itu, mereka hanya menyanyakan kabar dan sedikit meminta kita untuk datang. Sadarkan diri kita, dengan melihat orang tua. Dengan begitu, syukur luar biasa akan hadir, semangat berjuang akan muncul, doa-doa akan mengalir, kebajikan lebih banyak kita lakukan. Insya'Allah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar