Kamis, 18 Juli 2013

Menyibak Kesederhanaan Desa (part 1)


"Bukan hanya kehidupan sebagai mahasiswa tetapi sebagao masyarakat modern yang mampu beradaptasi dengan euforia modernisme. Masyarakat modern yang juga mampu menggunakan kemampuannya guna memudarkan ketertinggalan disekitarnya." Dua kalimat yang saya tulis dalam majalah BEM FEB UGM, tentunya dengan edit disana sini oleh Biro MKI. 

Saat ini, sudah sekitar satu tahun saya menjadi staff Departemen Sosial dan Kemasyarakatan. Selama satu setengah tahun, banyak pengalaman yang saya dapatkan. Salah satu yang paling berkesan adalah, ketika saya dan seorang rekan ditunjuk sebagai penanggung jawab Program Desa Binaan. Pada awalnya saya ragu atas kemampuan saya, apalagi saya anggota baru dengan pengetahuan minim akan program tersebut. Tapi, amanah yang telah diberikan harus saya jaga dan pertanggung jawabkan. Maka dengan izin Allah, saya berani menerimanya dan melaksanakannya. 

Desa Binaan kami pada waktu itu terletak di Gunung Kidul, jarak yang jauh dari kampus kami di Sleman. Jarak dan keterjangkauan merupakan kendala yang tidak dapat dipungkiri. Meski demikian, bolak-balik kota ke desa membuat kami mulai merasa terbiasa. Dalam periode tersebut (2012), kami memutuskan melanjutkan kegiatan yang belum terselesaikan dari program tahun sebelumnya, yaitu perbaikan TK. Bisa dikatakan, TK tersebut sangat minim fasilitas bahkan keberadaan tanah anjlok dibelakangnya berbahaya bagi anak-anak. Atas berkat Rahmat Allah melalui donatur dan dana kegiatan mahasiswa, pembangungan tembok bata pun dapat terlaksana. 

Peran saya sebagai penanggung jawab desa binaan telah berlalu dan digantikan oleh dua anggota baru. Keterlibatan saya memang belum berakhir dalam program ini. Saya ditunjuk sebagai steering comitee untuk memberikan pertimbangan atas ide yang akan rekan saya laksanakan. Hanya duduk dan memberikan komentar bukanlah gaya saya dalam melakukan tugas. Awal tahun 2013, BEM memutuskan untuk mencari desa baru yang lebih dekat, sehingga koordinasi dengan desa lebih efektif dan efisien. 

Saya menceritakan masalah pencarian desa dan maksud melakukan survey pada salah seorang sahabatku, Rida. Ia mengusulkan untuk mengikuti kegiatannya berkunjung ke sebuah desa yang di Bina oleh IAAS. Memang, saya bukanlah anggota IAAS, tetapi ide mereka hampir sama dengan program yang saya laksanakan, yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat desa. Bedanya, IAAS bergerak melalui bidang pertanian, sedangkan BEM FEB UGM lebih menyasar pada kesejahteraan ekonomi. Bagi saya, inilah ilmu baru yang mungkin bisa saya terapkan di program mendatang. 

Sungguh, saya terkagum dengan tekad dan semangat juang IAAS. Tak peduli, siang maupun malam, bahkan hujan, mereka tetap berangkat untuk melakukan pantauan perkembangan program yang telah mereka lakukan sebelumnya. Seorang pembina yang akrab disebut Pak Fajar, menjadi jembatan antara masyarakat desa dan IAAS. Dari Pak Fajar, saya memperoleh saran yang bermanfaat bagi diri saya mengenai pengabdian pada masyarakat, bagaimana menjalankan program pembinaan desa, dsb. Benar-benar pengalaman seru dan bermanfaat. Semoga kegiatan seperti ini banyak dilakukan tidak hanya oleh beberapa aktivis, tetapi juga mahasiswa pada umumnya. Agar kita semua dapat bersyukur dan mampu memanfaatkan pengetahuan dengan tulus, bukan sekedar KKN yang dilakukan untuk mencapai kelulusan. 

(bersambung)
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar